Bila kita mengkaji dan mendalami sejarah kehidupan salafus-saleh dari kalangan sahabat dan tabi’in, maka kita akan menemukan mereka –meskipun dalam kesibukan dan keadaan yang mendesak– mereka tetap menjaga dan membaca wirid dari Kitabullah baik dengan membaca ataupun mentadabburinya. Bagi mereka tahzib atau mengelompokkan Al-Qur’an menjadi beberapa kelompok adalah perkara sunnah yang diterima dari Rasulullah saw secara mutawatir dan diketahui oleh banyak kalangan, oleh karenanya kita akan mendapatkan tradisi mereka mengkhatamkan Al-Qur’an pada waktu-waktu tertentu.
Banyak riwayat shahih tentang hizb atau membaca Al-Qur’an dengan target harian ini. Rasulullah saw dan para sahabat senantiasa menjaga amalan ini, sebagaimana diriwayatkan dari Umar bin Khattab r.a. bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa tertidur sebelum membaca hizbnya atau sebagiannya, kemudian dia membacanya di antara shalat Fajar dan shalat Dhuhur, maka dia mendapatkan pahala seperti membaca pada malam hari”. (HR. Muslim).
Diantara hizb yang masyhur di kalangan mereka adalah sebagaimana yang diriwayatkan Aus bin Hudzaifah r.a:
Pada suatu malam Rasulullah saw terlambat hadir pada pertemuan yang biasa kami berkumpul sebelumnya, sehingga aku bertanya tentang keterlambatannya. Beliau menjawab: “Malam ini saya mempunyai tanggungan hizb dari Al-Qur’an yang belum selesai dibaca, maka aku enggan keluar rumah sampai aku dapat menyempurnakannya.” Lalu di pagi harinya saya menanyakan para sahabat Rasulullah saw: “Bagaimana kalian membuat hizb (kelompok surat) dari Al-Qur’an?”, mereka menjawab: “Kami membaginya menjadi 3 surat, 5surat, 7surat, 9surat, 11surat, 13surat dan hizb mufashshal (surat-surat pendek).” (HR. Ibnu Majah).
Dari keterangan hadis di atas, maka tercetuslah sebuah rumus Fami bi Syauqin yang membagi Al-Qur’an menjadi tujuh hizb/manzilyang masing-masing hizb/manzil terdiri dari 3 surat, 5 surat, 7 surat, 9 surat, 11 surat, 13 surat dan hizb mufashshal (surat-surat pendek). Fami bi Syauqin adalah sebuah ungkapan Arab yang bermakna “bibirku selalu rindu untuk membaca Al-Qur’an”. Fami bi Syauqin juga merupakan singkatan dari huruf-huruf awal dari nama surat pertama ketujuh manzil tersebut.
Mushaf Famy Bisyauqin adalah mushaf Al-Qur’an yang diterbitkan oleh Yayasan Pelayan Al-Qur’an Mulia. Nama “Famy Bisyauqin” terinspirasi dari metode Sahabat Radhiyallahu Anhu dalam membuat Hizb (pengelompokan) Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an adalah sebaik-baik zikir, untuk itu disunnahkan bagi yang mampu agar membacanya berdasarkan Hizb Sahabat Radhiyallahu Anhum, yaitu mengkhatamkannya dalam tujuh hari. Sesuai rumus Famy Bisyauqin dengan rincian sebagai berikut:
- (ف) Hari pertama : 3 surat dimulai dengan Al-Fatihah (Al-Baqarah, Ali Imran dan An-Nisa’)
- (م ) Hari kedua : 5 surat (Al-Maidah-At-Taubah)
- (ي) Hari ketiga : 7 surat (Yunus-An-Nahl)
- (ب) Hari keempat : 9 surat (Bani Israil/ Al-Isra’-Al-Furqan)
- (ش) Hari kelima : 11 surat (Asy-Syu’ara-Yasin)
- (و) Hari keenam : 13 surat (Ash-Shaffat-Al-Hujurat)
- (ق) Hari ketujuh : Surat-surat pendek (Qaf-An-Nas)
(Ustadz Zarkasyi Afif)
