“Ada apa dengan pesantren saat ini…?”
Pertanyaan ini sering muncul ketika pesantren disorot oleh publik, terlebih saat muncul berita-berita negatif yang melibatkan oknum dari kalangan pesantren — baik kasus kekerasan, penyimpangan moral, maupun korupsi yang dilakukan oleh sebagian kecil alumninya.
Namun, kejadian-kejadian itu tidak seharusnya membuat kita menggeneralisasi atau bahkan meragukan peran pesantren. Sebaliknya, hal itu justru mengundang kita untuk meninjau kembali jati diri pesantren, agar tetap berada di jalur aslinya: mencetak manusia berilmu, berakhlak, dan berjiwa pengabdian.
Memang benar, pesantren bukan lembaga yang maksum. Ia adalah lembaga manusiawi yang hidup di tengah arus besar zaman, di mana moralitas diuji, nilai-nilai digerus, dan orientasi hidup sering bergeser. Tetapi, di balik segala kekurangan manusiawinya, pesantren tetap menyimpan kekuatan moral dan spiritual yang luar biasa — kekuatan yang dirangkum dalam Panca Jiwa Pesantren: keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwwah Islamiyyah, dan kebebasan yang bertanggung jawab.
pesantren bukan lembaga yang maksum. Ia adalah lembaga manusiawi yang hidup di tengah arus besar zaman, di mana moralitas diuji, nilai-nilai digerus, dan orientasi hidup sering bergeser
Lima jiwa ini bukan sekadar doktrin, tetapi fondasi pembentuk karakter yang menjadi benteng bagi generasi. Ketika salah satu dari jiwa itu mulai luntur — misalnya keikhlasan yang tergantikan ambisi, atau kesederhanaan yang diganti gengsi — maka di situlah akar dari berbagai penyimpangan bermula.
Oleh sebab itu, munculnya berbagai kasus di lingkungan pesantren atau di kalangan santri alumni harus dibaca bukan semata sebagai kejatuhan moral individu, tetapi juga sebagai cermin untuk melakukan muhasabah institusional: apakah nilai-nilai dasar pesantren masih benar-benar hidup, atau sudah mulai tergeser oleh pragmatisme zaman?
Di sisi lain, tidak bisa diabaikan bahwa narasi-narasi negatif tentang pesantren juga bisa menjadi bagian dari agenda besar (grand design) yang secara halus berupaya menggerus kepercayaan umat terhadap lembaga keulamaan dan pendidikan agama.
Pesantren selama ini adalah benteng peradaban Islam di Nusantara — tempat lahirnya ulama, dai, dan cendekia yang menjaga akidah dan nilai moral bangsa. Jika kepercayaan terhadap pesantren dirusak, maka akan mudah bagi generasi untuk menjauh dari agamanya sendiri.
Namun, tuduhan konspiratif bukanlah akhir dari analisis. Justru di sinilah diperlukan penelitian yang jujur dan mendalam, agar kita tidak terjebak pada dua ekstrem: membela tanpa introspeksi, atau menghakimi tanpa pemahaman.
Pesantren perlu terus dibina, dievaluasi, dan diperkuat; bukan dijatuhkan. Karena sejatinya, ketika pesantren kehilangan jiwanya, bangsa pun kehilangan arah moralnya. Dan ketika pesantren kembali pada Panca Jiwa-nya, ia bukan hanya melahirkan santri, tapi membentuk manusia — insan yang ikhlas, sederhana, mandiri, bersaudara, dan merdeka dalam berpikir serta berbuat kebaikan.
Zarkasyi Afif. (Kendari, 15 Oktober 2025)