Connect with us

Hikmah

Makna dan Pelajaran dari Hadis tentang Istiqamah

Published

on

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari sahabat Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

استقيموا ولن تحصوا، واعلموا أن خير أعمالكم الصلاة، ولا يحافظ على الوضوء إلا مؤمن

“Istiqamahlah kalian, namun ketahuilah kalian tidak akan mampu menyempurnakannya. Ketahuilah, sebaik-baik amal kalian adalah shalat. Dan tidaklah seseorang menjaga wudhunya kecuali seorang mukmin.”

(HR. Ahmad)

Hadis yang singkat ini sarat dengan makna mendalam dan memberikan bimbingan praktis tentang bagaimana seseorang dapat menapaki jalan istiqamah

Istiqamah berarti komitmen yang kokoh untuk menaati Allah dan menjauhi larangan-Nya, dilakukan dengan penuh kesabaran dan keteguhan hati tanpa merasa lemah, bosan, atau menyerah. Kondisi ini berat dan sulit dicapai oleh kebanyakan manusia. Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan bahwa manusia tidak akan mampu menyempurnakannya kecuali dengan pertolongan Allah.

Sebagian ulama memahami sabda ini sebagai perintah untuk berusaha keras dalam istiqamah, namun dengan kesadaran bahwa kesempurnaannya hanya bisa diraih dengan rahmat Allah. Artinya, kita diperintah untuk terus berjuang, bukan untuk berputus asa.

Imam Hasan al-Bashri rahimahullah, ketika membaca firman Allah Ta‘ala:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah, maka turunlah malaikat kepada mereka (seraya berkata): ‘Janganlah kamu takut dan jangan bersedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.’” (QS. Fuṣṣilat [41]: 30)

Beliau kemudian berdoa:

آمَنْتُ بِكَ اللَّهُمَّ فَارْزُقْنِي الِاسْتِقَامَةَ

Aku beriman kepada-Mu, ya Allah, maka karuniakanlah kepadaku istiqamah.

Doa ini menunjukkan kesadaran mendalam bahwa istiqamah adalah karunia yang hanya Allah mampu berikan kepada hamba-Nya yang tulus.

Para salafush-shalih, meski ibadah mereka luar biasa — ada yang shalat seribu rakaat setiap malam, atau khatam Al-Qur’an dalam satu rakaat — tetap merasa belum istiqamah dengan sempurna. Mereka memahami bahwa istiqamah bukan sekadar banyaknya amal, tetapi keteguhan hati untuk terus berada di jalan Allah hingga akhir hayat.

Sebaliknya, sebagiannya orang di zaman ini mudah mengklaim dirinya telah istiqamah. Padahal, perasaan bangga terhadap amal justru dapat menjerumuskan pada kesombongan dan menggugurkan nilai amal itu sendiri. Na‘ūdzu billāh min dzālik.

Tahapan Menuju Istiqamah: Shalat dan Wudhu

Dalam hadis ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan dua langkah penting untuk menempuh jalan istiqamah: memperbaiki shalat dan menjaga wudhu.

Rasulullah bersabda:

“Ketahuilah, sebaik-baik amal kalian adalah shalat.”

Shalat adalah tolok ukur keimanan dan tiang utama agama. Rasulullah juga bersabda:

الصلاة خير موضوع، فمن استطاع أن يستكثر فليستكثر

“Shalat adalah sebaik-baik amalan yang ditetapkan Allah bagi hamba-Nya. Maka siapa yang mampu memperbanyaknya, hendaklah ia memperbanyak.” (HR. Ahmad)

Maka, langkah pertama menuju istiqamah adalah menjadikan shalat sebagai prioritas utama, dilaksanakan tepat waktu, di tempat terbaik (masjid), dengan tata cara terbaik (berjamaah) dan kekhusyukan hati.

Langkah kedua yang ditekankan Rasulullah adalah “tidaklah seseorang menjaga wudhunya kecuali seorang mukmin.”

Ini menunjukkan bahwa menjaga wudhu adalah ciri keimanan yang kuat. Wudhu bukan hanya bersuci secara lahir, tetapi juga penyucian jiwa dan penyambung hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya.

Banyak hadis dan atsar menjelaskan keutamaan besar menjaga wudhu, di antaranya:

1. Dosa-dosa diampuni dengan wudhu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Apabila seorang hamba berwudhu lalu membasuh wajahnya, keluarlah setiap dosa yang diperbuat oleh matanya bersama tetesan air terakhir. Ketika ia membasuh tangannya, keluarlah setiap dosa yang diperbuat oleh tangannya. Ketika ia membasuh kakinya, keluarlah setiap dosa yang diperbuat oleh kakinya, hingga ia keluar dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Muslim)

2. Dikenal sebagai umat Rasulullah di hari kiamat.

Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan bercahaya wajah, tangan, dan kaki karena bekas wudhu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

3. Menjadi sebab dijaganya keimanan dan diterimanya amal.

Dalam hadis lain, Rasulullah bersabda:

“Tidaklah seorang hamba menjaga wudhu kecuali seorang mukmin.” (HR. Ahmad)

4. Ditinggikan derajat dan dihapus dosa-dosanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Tidaklah seorang Muslim berwudhu dengan sempurna, lalu mengerjakan shalat dua rakaat dengan khusyuk, melainkan surga wajib baginya.” (HR. Muslim)

Oleh karena itu, menjaga wudhu secara berkelanjutan merupakan latihan ruhani untuk menumbuhkan rasa muraqabah (kesadaran akan pengawasan Allah) dan kesiapan untuk selalu beribadah. Orang yang senantiasa dalam keadaan suci berarti senantiasa menjaga hatinya agar tetap bersih dari dosa dan kelalaian.

Demikianlah bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menapaki jalan istiqamah — memulai dari shalat yang sempurna dan menjaga wudhu yang berkelanjutan. Dua amalan ini menjadi pondasi bagi semua bentuk ketaatan dan sumber kekuatan untuk terus istiqamah di jalan Allah.

Semoga Allah Ta‘ala menganugerahkan kepada kita keistiqamahan hingga akhir hayat, menjaga wudhu kita, menyempurnakan shalat kita, dan menutup kehidupan kita dengan husnul khatimah.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

 

Zarkasyi Afif, (Kendari, 17 Oktober 2025)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *